Ibu: Malaikat yang Dikirim Tuhan

(Sumber/Pixabay)

Ibu, entah dengan apa

Aku membalas kasih sayangmu

Segenggam emas atau pun berlian

Tak dapat membalas kasih sayangmu

Selama sembilan bulan lebih

Engkau membawaku

kemana saja engkau pergi

Setelah tiba waktunya aku pun dilahirkan

Engkau membedongku dengan penuh kasih sayang

Engkau tak kenal lelah

Sejak kecil engkau merawatku dengan penuh kasih

Ketika lapar, engkau menyusuiku

Setelah mandi, engkau membaringkanku

Disebuah ayunan buatan bapak

Engkau tak membiarkanku menangis

Meskipun larut malam

Engkau bangun menenangkanku

Rasa ngantuk yang melanda

Seolah hilang menatap wajahku

Anakmu yang sering tidak tahu terima kasih

Ibu, entah bagaimana

Aku membalas pengorbananmu

Seluruh pemberianku

Tak dapat mengganti tetesan keringatmu

yang berderai membasahi bumi

Tak mungkin menghapus jejak indah

yang terpatri melukis sejarah

Kala pagi tiba, sebelum ayam berkokok

Engkau bergegas menapaki jalan bersama embun pagi

Merajut harapan dengan sepenuh hati

Engkau melangkah menuju ladang

Menanam singkong, cabai, dan sayur-sayuran

Makanan pokok kala padi kena hama

Tak terkira rasa lelahmu

Engkau pulang ke rumah

Ketika mentari telah terbenam

Dan rembunan mulai menunjukkan dirinya

Dengan langkah yang tertatih

Engkau menapaki jalan menuju rumah

Menatap wajahku, anakmu

Lelah itu sirna

Oh ibu, nada terindah

Tak dapat melukiskan

Betapa sucinya kasih sayangmu

Bahkan pelangi tak dapat melukiskan

Betapa indah warna sejarah

Yang engkau goreskan dihidupku

Setiap nasehat yang keluar dari mulutmu

Kala daku mulai nakal adalah mutiara berharga

Bagai sabda pertiwi yang menyegarkan jiwa

Meneguhkan dan mengokohkan budi

Tiada yang seperti engkau

Engkau malaikat yang dikirim Tuhan

Malaikat yang berhati murni

Dengan tutur yang lembut dan hangat

Ibu, engkaulah penyejuk jiwa

Pemberi harapan dikala asa mulai pudar

Teman setia sepanjang hidup

Kasih sayangmu tetap, tak pernah luntur

Puisi ini tak dapat menggambarkan

Betapa besar kasih dan pengorbananmu

Ibu, Puisi ini hanyalah luapan kepenatan hati

Anakmu ditanah rantau

Aku merindukan nasehat dan belaian ibu

Dikala malam tiba

Dalam doaku nama ibu terucap

Pintaku pada-Nya,

“Tuhan aku merindukan ibu, jaga dan berilah kesehatan padanya”.

Selamat Hari Ibu 2021, Tuhan Memberkati.

Penulis: Detianus Gea, dalam buku Antologi Puisi “Ibuku Surgaku” yang diterbitkan oleh Penerbit Kosa Kata Kita-Jakarta, tahun 2020, hlm. 87-90.

Scroll to Top